Minggu, 15 April 2012

Tolong Jaga Dia Baik-Baik by Fakhrunisa Dini

Novel yang berawal dari tangan iseng saya, yang hobi nulis apapun di atas keyboard atau diatas kertas :) Selamat Membaca Semoga Terhibur Judul: Tolong Jaga Dia Baik-Baik Awalnya, ketika aku sedang berdiri disebuah halte bus ada seseorang yang mengajakku berkenalan, sosoknya sangat tampan dan berwibawa, namun sayang rasanya keadaanlah yang mebedakan aku dengannya. Ia bernama Doni, dari mereka orang-orang yang mnegenal Doni, kabarnya ia memang suka dan telah mengincarku sejak lama. “hey” sapa Doni “iya? Aku?’ jawab aku dengan tampang yang sok jual mahal “iya kamu yang disitu, nama kamu siapa?” tanya Doni dengan lembut. Tiba-tiba bus yang akan ku tumpangi datang. Tak sempat aku berkenalan denganya aku segera bergegas meninggalkannya. Tiba-tiba tanpa aku sadari surat yang ku buat dan akan ku kirim untuk sahabat ku di Bandung hilang. Mungkin tanpa tersadar jatuh karna terburu-buru pada saat mengejar bus tadi. Doni yang sedang merasa bingung karna suratku telah terbawa olehnya. “inikan surat si cewek tadi” kata Doni dalam hati. ***keesokkan harinya…. Aku bertemu lagi dengan Doni, ia masih tetap berusaha ingin tahu siapa namaku, saat aku duduk dihalte bus yang sama tiba-tiba Donipun datang menghampiriku lagi “hey” sapa Doni “iyah?’’ jawab aku ‘‘kemaren aku ga sengaja nemuin surat ini, apa ini surat kamu?” tanya Doni “iya makasih ya” jawab aku. “eits… tapi ga segampang ini kamu bisa dapet surat kamu balik” kata Doni “loh koq? Kenapa? Inikan punya aku?” jawab aku dengan perasaan sedikit ilfeel. “aku bisa kasih surat kamu balik, asal kamu kasih tau siapa nama kamu” kata Doni sambil senyum. “oke, aku Nindy” jawab aku dengan perasaan yang sedikit kesal. “oh jadi nama kamu Nindy… kamu tinggal dimana?” tanya Doni “aduuuuh… udah deh! Tadikan janjinya cuma ngasih tau nama doang. Yauda mana sinih kembaliin surat aku!” kata aku dengan marah. Tiba-tiba bus yang akan ditumpangi aku datang lagi sama hal seperti kemarin Doni yang berusaha ingin tahu siapa aku lebih jauh belum sempat karna tersusul oleh bus yang akan ku tumpangi. Tanpa sempat basa-basi Nindy segera naik ke bus tersebut. Ia terlupa bahwa suratnya masih ada ditangan Doni. “yaampun! suratnya kan masih ada sama si cowok rese itu” kataku dalam hati. Malam hari pun tiba. Doni yang sedang ada dikamar sedang melamun sambil senyam-senyum sendiri memikirkan Nindy. Begitu pula denganku justru sebaliknya dengan perasaan kesal ia membayangkan wajah Doni yang menjengkelkan, Nindy kesalkarna suratnya masih ada ditangan Doni. “Tuhaaaan kalau aja ada dia disini, ingin rasanya aku meyiram dia dengan air got!!!” kataku dalam hati sambil meremas-remas guling yang ada ditangannya. “Tuhaaan andai saja dia jodohkuuuu” kata Doni sambil senyum layaknya orang jatuh cinta. Hari makin hari mulai menyatukan ku dengan Doni. Mungkin karna aku yang mulai luluh atas setiap usaha yang ia lakukan demi ingin tahun siapa aku. Dengan singkatnya tanpa fikir panjang aku menerima Doni sebagai pacarku. Karna aku yakin Doni adalah sosok lelaki yang baik yang setia dan bisa mnegerti kondisku, karna aku bukan gadis kaya yang berkilauan yang dihiasi oleh bajubagus dan perhiasan, aku hanya seorang gadis pengantar kue dari toko ke toko dari pabrik ke pabrik. Semakin hari Doni semakin perhatian padaku sampai ia ingin sekali memberikan aku sebuah toko kue supaya aku tidak terlalu capek bekerja, tapi tawaran itu aku tolak. Karna aku tidak mau dipandang sebagai cewek matre. Esoknya saat aku liburdari pekerjaanku, tiba-tiba Doni mengajakku ke sebuah taman yang begitu indah entah apa nama tempatnya, bagiku itu surga cinta, disamping taman itu indah, disamping itu juga ada Doni yang menemaniku. Namu tak sengaja saat aku dan Doni sedang berfoto bersama tiba-tiba setetes darah keluar dari hidungku dan kepalaku terasa sangat pusing. Akhirnya aku pun jatuh pungsan. Dengan khawatirnya Doni segera membawaku ke Rumah Sakit terdekat. Setalah satu jam aku di UGD, aku pun keluar dengan menggunakan kursi roda. Aku pun duduk terdiam sambil menatap taman bunga yang ada di Rumah Sakit tersebut. Sambil berkata “Oh Tuhan… sakit apa aku?” tanya aku dalam hati. Kemudian tak lamapun Doni menghampiriku. “kamu udah gapapa?” tanya Doni “aku udah gapapa koq” jawab aku dengan senyuman pucat dibibirku. “ayo kita pulang” kata Doni sambil mebawa sebuah bon RS. “Doni aku sakit apa? Itu apa don?” tanya aku dengan lemas “dokter masih periksa keadaan kamu, mungkin 2 hari kedapan kita bari bisa ambil tes pemeriksaanya, oh ini bon RS” jawab Doni “ohhh coba aku liat. Yaampunnn mahal banget Don, uang dari mana aku bayar biaya ini?” kata aku dengan shocked karna biaya RS yang cukup mahal. “udah kamu tenang aja, kan ada aku” kata Doni sambil senyum. *****Sesampainya aku dirumah dengan diantar Doni, aku pun terbaring lemas dikasur. Doni begitu setia kepadaku sampai ia menjagaku dengan penuh kasih sayang, namun saat itu ada yang merusak kebahagianku dengan Doni ia adalah sahabatku sendiri, sahabatku Nia diam-diam menyukai kekasihku Doni. Diam-diam ia mencuri nomor ponsel Doni dari kontak handphoneku. Malamnya, Donipun pulang itu pun aku yang menyuruhnya karna aku tidak mau Doni dimarahi orangtuanya hanya untuk menjagaku. Pagipun tiba, keadaanku belum begitu pulih namun harus ku paksakan untuk bekerja. Tiba-tiba Donipun datang menjemputku dengan memakai mobil. “Doni” kataku. Tin…tin….!!! “ayo sini naik” kata Doni dengan wajah yang ceria “Doni kamu mau kemana?” Tanya aku “aku mau nganterin kamu ke tempat kerjalah! Kan aku mau jagain kamu” kata Doni “tapi ga harus pake mobil juga kan?” jawab aku “udah ayoook! Nanti kamu telat lhoooo!!!” kata Doni. Tanpa sepengetahuanku tiba-tiba Nia mengirim pesan pada Doni. “SMS dari siapa?” tanya aku “ah engga” jawab Doni. Aku mulai curiga dengan gerak-gerik Doni kalau itu SMS dari Nia. Tanpa banyak bicara aku hanya diam. Sesampainya ditempat kerja, tiba-tiba darahku menetes kembali yang keluar dari hidungku. Tak sengaja rekan kerjaku Rio melihatku yang berusaha membersihkan darah angada dihidungku “Nin, lo kenapa?” tanya Rio dengan heran “gue gapapa koq” jawab aku dengan tampang polos “lo yakin?” tanya Rio “iya, udah ah bawel deh lo” jawab aku dengan merasa tampang sok kuat. Padahal saat itu aku dalam keadaan pusing dengan pandangan yang tidak jelas “yee engga kalo misalnya lo sakit lo bisa izin koq. Mumpung bos lagi ga ada, nanti gue yang gantiin deh kerjaan lo” kata Rio dengan rasa solideritasnya. “engga koq yo gue biasa aja kali. Ini udah biasa koq. Gue sehat-sehat aja juga. Makasih deh” jawab aku. “yaudah” jawab Rio aku kembali ke pekerjaanku. Senjapun tiba, sengaja aku tak langsung pulang ke rumah, aku mampir ke taman dimana aku dengan Doni bersenang-senang waktu itu. Aku pun termenung sambil menatap danau sekiranya apa penyakit yang ada dalam tubuhku? “oh Tuhan inikah takdirku?” tanya aku dalam hati. Awan pun mulai gelap, malam pun datang, aku kembali ke rumah dengan tampang lesu, tanpa bicara apapun, aku langsung ketuk pintu tok…tok…tok… setelah beberapa menit tidak kunjung jua Nia mebukakan pintu untukku. Hingga akhirnya aku masuk lewat pintu belakang. Setibanya dikamar aku tidak langsung tidur, karn aku heran sampai jam segini Doni belum kasih kabar kepadaku, namun semua itu ku tanggapi dengan santai, ku fikir mungkin Doni sibuk dengan pekerjaan yang lain. Tak lama, tiba-tiba Nia datang mengahmpiri aku yang sedang terbaring lemas “Nin…” kata Nia “iya.. masuk” jawab aku. “Nin, cowok yang kemaren dateng itu cowok lo ya?” tanya Nia dengan malu-malu “iya, kenapa?” jawab aku dengan herannya ada apa Nia menanyakan Doni? “gapapa, ganteng juga keliatannya dia tajir ya nin? Buktinya tadi pagi dia jemput lo pake mobil”kata Nia dengan tertawa kecil “gue juga ga tau Ni, udah yah gue capek banget, gue mau tidur dulu” jawab aku dengan lemas ‘’oh yaudah” jawab Nia. ***keesokkan harinya pagi pun tiba, pagi itu adalah pagi yang kelam untukku, karna mataku begitu berat kepalaku terasa pening yang sangat sangat membuat tubuhku lemas, entah apa lagi atau siapa aku, darah trus bercucuran dari hidungku, tak tahu apa lagi yang harus ku lakukan, karna dikamar aku hanya sendiri Nia pun sedang tidak ada. Ingin rasanya aku menelpon Doni tapi, rasanya aku sudah teralu banyak menyusahkan dia. Akhirnya aku pergi ke RS sendiri, sesampainya di RS aku bertanya pada dokter “aku sakit apa dok?” tanya aku dengan lembut “dari hasil pemeriksaan kemarin, kamu mengidap kanker otak dan ini sudah bahaya karna sudah mencapai Stadium 4, saya harap kamu bisa menerima musibah ini dengan tabah” kata Dokter dengan berwibawanya dia memberi tahuku. Tanpa banyak bicara aku hanya mengucapkan terima kasih pada Dokter itu “oh terima kasih dok, iyaaa mari Dok” kata aku dengan takkuasanya menahan air mata dipipiku. Aku pun kembali pergi ke taman indah itu lagi. Aku hanya menangis meratapi danau yang begitu tenang. Tiba-tiba handpheku berdering dan ternyata itu telepon dari Doni sedikit terlupakan sejenak penyakit berbahayaku itu. “halo?” kata Doni “iya halo?” jawab aku dengan suara orang habis menangis “kamu kenapa nin? Kamu nangis?” tanya Doni dengan cemas “aku gapapa koq Don. Kamu apa kabar?” tanya aku “serius? Aku baik-baik aja, kamu gimana? Maaf ya beberapa hari ini aku ga kasih kabar ke kamu, aku abis ikut papah ke Semarang, maaf banget ya. Kamu ga marahkan?” kata Doni dengan lembut “iya, oh iya gapapa koq” jawab aku dengan sabar “oiya waktu hasil pemeriksaan RS udah kamu ambil belum? Kamu sakit apa?” tanya Doni denngan penasaran Sejenak ku terdiam aku ragu apa harus ku beri tahu kalau aku telah mengidap penyakit kanker otak Stadium 4 itu, aku tidak mau mebuat Doni cemas, tapi tidak baikjuga kalau aku harus membohonginya. “oh Tuhaaan bagaimana ini?” tanya aku dalam hati. “halo? Nin.. kamu masih disitu kan?” tanya Doni. “iya masih koq” jawab aku sambil nangis, karna tak kuasanya aku menahan air mata ini. “Doni… aku mau kamu temuin aku di taman biasa kita, sekarang juga. Bisa?” tanya aku dengan sedih “oh iyaaa tunggu aku ya” kata Doni *********setelah beberapa saat kemudian Doni pun datang, tiba-tiba ia memelukku dengan mencium keningku sambil berkata “aku kangen sama kamu” kata Doni dengan senyum “aku juga ” jawab aku dengan senyum dan air mata. “oiya kata dokter kamu sakit apa?” tanya Doni “Doni… kalau misalnya aku jawab jujur, kamu harus janji ya” kataku “Janji apa?” tanya Doni “pokonya kamu janji dulu” kataku “oh iya deh siap myNindy” jawab Doni dengan semangat “Doni… dokter bilang aku mengidap penyakit kanker stadium 4” jawab aku dengan air mata yang berlinang dipipiku. Doni hanya terdiam dan menatap wajahku dengan wajah yang sedih “ha? Nindy kamu bohong ya? Jangan bercanda Nin” kata Doni dengan meneteskan air mata. “aku serius don” jawab aku dengan lemas. Kita cari pengobatan mahal ya biar kamu sembuh, aku yakin kamu pasti bisa sembuh, aku yakin kan kamu mau nikah sama aku” kata Doni dengan memaksa “kamu gausah repot-repot Don.. aku tinggal ngitung hari aja koq” jawab aku dengan pasrah “tapi... aku yakin kamu selamanya buat aku” kata Doni dengan memaksa “engga Don…” jawabku, tiba-tiba darah yang keluar dari hidungku menetes lagi. Doni pun cemas ia segera membawaku ke RS terdekat. Setelah beberapa saat aku sempat koma dan malamnya pun aku sadar kembali walau keadaan ku memburuk. Tiba-tiba pada saat aku membuka mata disampingku sudah ada Doni, Rio, dan Nia. Entah apa ang harus ku katakan lagi. Hanya dengan lirikan mata lihat satu persatu wajah mereka yang waktu dulu pernah mebuatku tersenyum bahagia, kupandangi wajah Rio, Rio sosok rekankerja yang sangat baik bagiku, kemudian ku pandangi Nia, Nia adalah sosok sahabat yang begitu setia menemaniku dari aku kecil sampai saat ini, dan yang terakhir ku pandangi wajah Doni, Doni adalah orang yang sangat ku cintai. Dia adalah sosok pria yang hebat dimataku, dia adalah sosok pria yang begitu menjaga wanitanya, dia baik, dia setia, dan dia pahlawan dihidupku. “Nindy… kamu udah sadar?” tanya Doni, dan aku pun hanya terdiam menatap wajah Doni yang penuh kecemasan itu. Aku terdiam menatap wajah Nia yang sudah berlinangan air matanya itu. “Nindy… lo kenapa diem? Ayo dong ngomong, kita disini khawatir banget nih, lo harus kuat Nin, masih ada gue, Doni, Rio! Lo harus berjuang ngadepin penyakit lo itu demi kita” kata Nia sambil menangis “iya Nin… ayolaaaah!!! Mana nih Nindy yang kuat dimata gue?” kata Rio “iya Nindy… kamu harus kuat” kata Doni yang hanya bisa lakukan itu. “Doni…” kataku dengan terbata-bata “iyaaaa” jawab Doni “aku mau tagih janji kamu sekarang, aku mau kamu tepatin janji kamu ke aku di hari ini” kataku “janji apa?” tanya Doni dengan heran “kamu harus janji sama aku kalo kamu mau nikahin Nia didepan mata aku juga. Dan sekarang juga” kataku. Mereka bertigapun terkejut atas permintaan aneh ku ini. “taapi Nin?” kata Nia “gue tau koq Ni lo suka sama Doni dari pertama Doni dateng ke rumah. Jadi plis. Gue mohon. Lo jangan nolak permintaan terakhir gue” kataku dengan lembut tapi memaksa “oke baik aku lakuin ini demi kamu Nindy” kata Doni dengan tegar. Dengan ikhlasnya aku merelakan Doni untuk sahabatku Nia. ********setelah Doni selesai mengucapkan ijab kabul dan Nia sah menjadi istri Doni. tiba-tiba nafasku telah terputus, dan aku akan terlelap tidur untuk selamanya… “Semoga bahagia Doni dan Nia, aku tersenyum disini…….” Quote: merelakan sesuatu yang kita cintai memang berat rasanya, tapi jika ingat kalau sesuatu itu belum milik kita selamanya, ada kalanya kita membagi kepada yang lebih membutuhkan” Karyaku: Fakhrunisa Dini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar